Kamis, 26 Agustus 2010

Tenaga Kerja Terdidik Pariwisata Menjajnjikan

Masyarakat Indonesia Tak usah cemas apabila sudah menyelesaikan kuliahnya karena BNP2TKI mempunyai jaringan dengan 150 negara sehingga para tamatan kuliah dapat bekerja di mana saja.
Indonesia sampai saat ini belum mampu memenuhi permintaan tenaga kerja terdidik bidang hospitality (pariwisata) dari sejumlah negara peminat. Ini disebabkan tidak banyak perguruan tinggi membuka program studi yang dibutuhkan dan memenuhi standar kompetensi yang diharapkan.
Selandia Baru butuh 2.000 tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja di Timur Tengah dan Belanda juga banyak.
Direktur Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Endang Sulistyaningsih mengatakan itu pada seminar Pariwisata sebagai Ilmu Mandiri dan Strategi Penempatan Tenaga Kerja di Luar Negeri dan peluncuran program studi Hospitality (pariwisata) jenjang S1 Unika Atma Jaya, Senin (23/8/2010) di Unika Atma Jaya, Jakarta.
“Ribuan permintaan tenaga kerja terdidik bidang pariwisata dari Indonesia, hanya dalam jumlah sedikit bisa dipenuhi. Ini peluang bagi perguruan tinggi membuka program studi yang dibutuhkan pasar kerja di luar negeri,” katanya.
Endang melukiskan, dari 9.000 pekerja yang diminta Shanghai, 4.000 pekerja yang bisa kita penuhi dan sudah disetujui. “Selandia Baru butuh 2.000 tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja di Timur Tengah dan Belanda juga banyak. Enam bulan terakhir, di Arab Saudi dibutuhkan 5.000 tenaga kerja. Pekerja yang dibutuhkan bukan pembantu, tetapi tenaga terdidik di bidang pariwisata, seperti chef, bar tender, butcher, baker, housekeeper, dan bidang pariwisata lainnya,” katanya.
Menurut Endang, jika sudah tamat kuliah dan mau bekerja di mana, jangan khawatir, BNP2TKI mempunyai jaringan dengan 150 negara. “Peluang kerja formal hingga tahun 2015, ada sedikitnya 4 juta. Apa pun keahlian, kompetensi Anda, untuk bekerja di luar negeri yang paling utama harus menguasai bahasa Inggris dan kalau memilih Timur Tengah, ditambah penguasaan bahasa Arab. Jika tidak, cukup cari kerja di dalam negeri saja,” tandasnya.
Ia mengingatkan, bekerja di luar negeri hati-hati dengan agen. “Ketahui betul keberadaan agen, karena banyak agen yang jadi-jadian. Keberadaan agen bisa dicek ke BNP2TKI,” katanya.
Direktur Promosi Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, I Gde Pitana mengatakan, pariwisata sudah memenuhi persyaratan sebagai ilmu yang didasarkan pada filsafat ilmu. “Pariwisata adalah cabang ilmu mandiri, yang sudah disepakati oleh akademisi, asosiasi dan pemerintah,” katanya.
Menurut Pitana, pendidikan pariwisata harus mengembangkan proses dan menghasilkan insan-insan pariwisata yang mampu menjawab perubahan dan tren dalam pariwisata.
Koordinator Marketing dan PR Unika Atma Jaya, Yohanes Atas Pracoyo, mengatakan, pengembangan kepariwisataan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, semakin kompleks, semakin beragam dengan tuntutan kualitas yang juga semakin meningkat seiring dengan meningkatnya mobilitas manusia.
“Pengembangan kepariwisataan ke depan menuntut tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas, bukan saja dalam hal pelayanan, tetapi juga dalam hal perencanaan, penelitian, dan pengembangan secara akademis,” katanya.
kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar